Junia Fitri Mayang Sari. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Sabtu, 08 Desember 2012

Terjemah Buluughul Maraam - Kitab Thaharah - Bab Cara Menghilangkan Najis dan Penjelasannya

Buluughul Maram adalah kitab hadits yang berbicara tentang masalah fiqh, banyak para fuqaha beristidlal dengan hadits-hadits yang ada di dalamnya. Penyusunnya Al Haafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalaaniy adalah seorang ahli hadits besar disamping sebagai ahli fiqh. Hal ini sebagaimana yang kita ketahui dari kitab besar yang disusunnya yaitu Fathul Bari sebagai syarahnya terhadap Shahih Bukhari, dan kitab-kitabnya yang lain. Melihat isi Buluughul Maram yang tidak henti-hentinya orang membutuhkannya. Maka atas dasar ini, kami pun menyempatkan diri untuk menerjemahkannya. Dan dalam menerjemahkan kami pun melihat beberapa terjemahan Buluughul Maram seperti yang diterjemahkan oleh Al Ustadz A. Hassan dan Prof. Drs. Masdar Helmy, di samping melihat juga kepada kitab syarah Buluughul Maram “Subulus Salam”.
Sedangkan dalam menyebutkan takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul ‘Aqiidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin Al Albani rahimahullah[1], dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az Zuhairiy rahimahullah murid Syaikh Al Albani[2].

Kami berharap kepada Allah semoga usaha kami ini ikhlas karena mengharapkan Wajah-Nya dan bermanfaat bagi saudara kami kaum muslimin yang tinggal di negeri ini. Allahumma amin.
Ditulis oleh Al Ustadz Marwan Bin Musa -Hafidzhahullah- staf pengajar Ibnu Hajar Boarding School 


[1] Kami singkat dengan “TCDA” (takhrij dari cetakan Darul ‘Aqidah).
[2] Kami singkat dengan “TSZ”  (Takhrij/tahqiq Sumair Az Zuhairiy). 

                ****************************

بَابُ إِزَالَةِ اَلنَّجَاسَةِ وَبَيَانِهَا
Bab menghilangkan najis dan penjelasannya
27- عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ  قَالَ: , سُئِلَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  عَنْ اَلْخَمْرِ تُتَّخَذُ خَلًّا? قَالَ: "لَا". -  أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ
1.      Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang khamr (arak) dijadikan cuka? Beliaupun menjawab, “Tidak boleh.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi, kata Tirmidzi “Hadits hasan shahih”)[1]
28-وَعَنْهُ قَالَ: , لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ, أَمَرَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  أَبَا طَلْحَةَ, فَنَادَى: "إِنَّ اَللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ اَلْحُمُرِ]اَلْأَهْلِيَّةِ], فَإِنَّهَا رِجْسٌ" -  مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ
2.      Darinya (Anas bin Malik) ia berkata: “Ketika hari Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Thalhah menyeru “Sesungguhnya Allah dan RasulNya telah melarang kalian makan daging keledai negeri, karena ia kotor.” (Muttafaq ‘alaih)[2]
29- وَعَنْ عَمْرِو بْنِ خَارِجَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ  قَالَ: , خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بِمِنًى, وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ, وَلُعَابُهَا يَسِيلُ عَلَى كَتِفَيَّ. -  أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَه ُ
3.      Dari ‘Amr bin Khaarijah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami di Mina, yang pada waktu itu Beliau berada di atas untanya, ketika itu air liur untanya mengalir di atas bahuku.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi, ia (Tirmidzi) menshahihkannya)[3]
30-وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا, قَالَتْ: , كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَغْسِلُ اَلْمَنِيَّ, ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى اَلصَّلَاةِ فِي ذَلِكَ اَلثَّوْبِ, وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى أَثَرِ اَلْغُسْلِ فِيهِ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ
4.      Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaa ia berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mencuci mani kemudian keluar untuk shalat dengan memakai baju itu, akupun melihat bekas cucian itu.” (Muttafaq ‘alaih)[4]
31- وَلِمُسْلِمٍ: , لَقَدْ كُنْتُ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبٍ رَسُولِ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَرْكًا, فَيُصَلِّي فِيهِ -  .
5.      Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan, “Aku pernah menggosok mani dari baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sekerasnya lalu Beliau shalat memakai baju itu.”[5]
32- وَفِي لَفْظٍ لَهُ: , لَقَدْ كُنْتُ أَحُكُّهُ يَابِسًا بِظُفُرِي مِنْ ثَوْبِهِ -
6.      Sedangkan dalam sebuah lafaz Muslim yang lain disebutkan, “Aku pernah mengerik mani dari baju Beliau di saat kering dengan kukuku.”[6]
33- وَعَنْ أَبِي اَلسَّمْحِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ  قَالَ: قَالَ اَلنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  , يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ اَلْجَارِيَةِ, وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ اَلْغُلَامِ -  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِم ُ
7.      Dari Abus Samh radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “kencing bayi perempuan dicuci dan kencing bayi laki-laki diperciki.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i dan dishahihkan oleh Hakim)[7]
34-وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ -فِي دَمِ اَلْحَيْضِ يُصِيبُ اَلثَّوْبَ-: , "تَحُتُّهُ, ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ, ثُمَّ تَنْضَحُهُ, ثُمَّ تُصَلِّي فِيهِ" -  مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ
8.      Dari Asma binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang darah haid yang mengenai pakaian, “Kamu kerik lalu kamu gosok dengan air kemudian kamu siram lalu kamu shalat dengannya.” (Muttafaq alaih)[8]
35- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ  قَالَ: قَالَتْ خَوْلَةُ: , يَا رَسُولَ اَللَّهِ, فَإِنْ لَمْ يَذْهَبْ اَلدَّمُ? قَالَ: "يَكْفِيكِ اَلْمَاءُ, وَلَا يَضُرُّكِ أَثَرُهُ" -  أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَسَنَدُهُ ضَعِيف ٌ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Khaulah pernah berkata “Wahai Rasulullah, bagaimana Apabila darah haid belum hilang?” Beliau menjawab, “Cukup bagimu air itu dan tidak mengapa bekasnya.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan sanadnya dha’if)[9]


[1] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1983), Tirmidzi (1294) dalam Al Buyuu’ -TCDA-.
[2] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (5528), Muslim (1940) dalam Ash Shaid wadz dzabaa’ih –TCDA-.
[3] Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (17211), Tirmidzi (2121) dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi (2121) –TCDA-.
[4] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dalam Al Wudhuu’ (229) dan Muslim (289) dalam Ath Thaharah -TCDA-.
Dalam TSZ disebutkan, “Lafaz tersebut adalah lafaz Muslim.”
[5] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (288) dalam Ath Thaharah –TCDA-.
[6] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (290) dalam Ath Thaharah –TCDA-.
[7] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (376) dalam Ath Thaharah, Nasa’i (304) dalam Ath Thaharah, Ibnu Majah (526) dalam Ath Thaharah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (376) –TCDA-.
[8] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (227) dalam Al Wudhu’, Muslim (291) dalam Al Iman –TCDA-.
[9] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (365) dalam Ath Thaharah, Ahmad (8549) dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (365) -TCDA-. Dalam TSZ disebutkan, “Perhatian: Dinisbatkannya hadits tersebut oleh Al Haafizh kepada Tirmidzi termasuk keliru, meskipun diikuti juga oleh yang lain. Adapun pendha’ifannya terhadap sanad hadits, boleh jadi tidak berpengaruh.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...